Senin, 10 April 2017

SEMINAR NASIONAL “MEMBENTUK GENERASI PEDULI LINGKUNGAN” - Universitas Jambi Fakultas Keguruan dan Pendidikan bersama WALHI Jambi

Salah satu masalah besar yang dihadapi di wilayah Provinsi Jambi saat ini adalah masalah kerusakan lingkungan. Masalah kerusakan lingkungan ini terutama disebabkan oleh ulah manusia,diantaranya adalah aktifitas di sektor hutan, sungai dan lain-lain. Semakin lama permasalahan lingkungan ini semakin menjadi ancaman besar bagi kehidupan di Provinsi Jambi, yang berdampak padaterjadinya bencana alam dan kerugian baik materiil maupun moril.
Eko saat memberikan materi di seminar "Membentuk Generasi Peduli Lingkungan

Sebagai contoh, peristiwa kebakaran lahan dan hutan pada tahun 2015 di Provinsi Jambi adalah salah satu bentuk perilaku manusia yang tidak berpihak pada lingkungan. Akibatnya kita sebagai masyarakat Provinsi Jambi mendapat dampak negatif dari kebakaran lahan dan hutan  tersebut. Selain peristiwa kebakaran lahan dan hutan di tahun 2015, Provinsi Jambi ditahun 2017 ini juga mengalami peristiwa banjir sebagai akibat dari perilaku manusia yang tidak peduli pada lingkungan.

Kamis, 06 April 2017

RAPAT KERJA DAERAH (RAKERDA) WALHI JAMBI 2017 – 2021




Rudiansyah saat memberikan kata sambutan
WALHI Jambi - Pengelolaan Sumber daya alam di Propinsi Jambi belum secara maksimal memperhatikan upaya keselamatan rakyat dan lingkungan, sejak awal pemerintahan Zumi Zola masyarakat Jambi di hadapi beberapa persoalan mulai dari penurun harga pertanian rakyat, persoalan konflik agraria, kerusakan/pencemaran lingkungan hidup sampai pada kebakaran hutan dan lahan. 

Isu pengelolaan Sumber Daya Alam dengan beberapa skema yang dibuat oleh pemerintah (Skema perhutanan sosial serta Reforma Agraria) yang digadang pemerintah rezim ini adalah salah satu isu

Rabu, 05 April 2017

MASA DEPAN SUMBERDAYA ALAM JAMBI [1], Musri Nauli [2]


Memasuki paruh waktu tahun 2017, saya belum menemukan format, desain ataupun arah kebijakan Jambi didalam melihat permasalahan termasuk upaya penyelesaian di sector sumberdaya alam Jambi.Padahal angka-angka kerusakan sumberdaya alam sudah tahap mengkhawatirkan[3]. Tahun 2015 saja, kebakaran telah meliburkan sekolah selama 2 bulan lebih, ISPU mencapai 1200 pm, menyebabkan ISP 20.471 orang[4], menewaskan 3 orang, menimbulkan Rp 221 Trilyun kerugian akibat kebakaran hutan[5]
Image result for musri nauli
Musri Nauli, Direktur Walhi Jambi 2012-2016

Angka ini kemudian melengkapi Laju kerusakan hutan mencapai 871.776 hektare (ha) selama tiga tahun terakhir. Angka ini melebihi angka deforestrasi nasional yang mencapai 613 ribu hektar. Melengkapi kawasan hutan lindung untuk tambang seluas 63 ribu hektar[6]

Di sector tambang, daya rusak tambang dari areal yang diberikan kepada perusahaan yang tidak melewati procedural “clean and Clear” sebanyak 190 IUP. Belum lagi reklamasi yang belum diselesaikan meninggalkan lubang yang berbahaya.

Belum lagi aktivitas pertambangan yang mengakibatkan Sungai Batanghari tercemar Merkuri[7]

Jumat, 31 Maret 2017

Siaran Pers Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Perjuangan Petani Kendeng, Memperkuat Gerakan Penyelamatan Kawasan Karst di Indonesia


Jakarta, 31 Maret 2017-Pada tanggal 5 Oktober 2016, Mahkamah Agung (MA) telah memenangkan Peninjauan Kembali (PK) gugatan warga Rembang dan WALHI dengan nomor register 99/PK/TUN/2016.  Pembatalan izin berdasarkan putusan PK MA sesungguhnya telah diatur dalam pasal 40 ayat (2) UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menyatakan bahwa “Dalam hal izin lingkungan dicabut, izin usaha dan/atau kegiatan dibatalkan”. Artinya seluruh kegiatan yang dilakukan PT. Semen Gresik harus dibatalkan. Tidak ada dasar hukum pengecualian apabila perusahaan telah berganti nama atau perubahan luasan. Dengan demikian, maka hukuman pembatalan izin tetap melekat. Ironinya, Gubernur Jawa Tengah secara sengaja telah melakukan perbuatan melawan hukum karena tidak mematuhi putusan MA, dengan melakukan penerbitan izin lingkungan baru bagi PT. Semen Indonesia. Upaya hukum sebagai warga negara yang taat hukum diciderai justru oleh pengurus negara.

Rabu, 29 Maret 2017

Mapala Gema Cipta Persada UNBARI Jambi, Memperingati Hari Air Se-Dunia "World Water Day" [ Water and Disaster ]

Rudiansyah saat memberikan materi di acara seminar "Water and Disaster"
WALHI Jambi -Masalah air bersih merupakan hal yang paling fatal bagi kehidupan kita. Dimana setiap hari kita membutuhkan air bersih untuk minum, memasak, mandi, mencuci dan sebagainya. Tiga per empat bumi adalah air, sama seperti manusia yang 55% - 78% tubuhnya terdiri dari air. Saking pentingnya air bagi kehidupan, manusia hanya bisa bertahan paling lama lima hari tanpa air. Dalam skala yang lebih luas, air bersih dan sehat sangat penting bagi perkembangan sosial dan ekonomi. 


Dalam memperingati hari Air Se-Dunia, Mahasiswa Pecinta Alam Gema Cipta Persada Universitas Batanghari Jambi, pada hari ini ( Rabu 29 Maret 2017 ) mengadakan acara seminar dengan tema "Water and Disaster ( Air dan Bencana ) dengan menghadirkan beberapa narasumber di antaranya dari Badan Lingkungan Hidup Daerah ( BLHD ) Jambi , Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Jambi, Dinas Kesehatan Jambi, dan Walhi Jambi yang diberikan kepercayaan menjadi salah satu narasumber di acara tersebut.